Jumat, 14 September 2012

ASKEP BURSITIS


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BURSITIS

A.    KONSEP DASAR MEDIS BURSITIS

1.      DEFINISI
Bursitis adalah peradangan pada bursa yang disertai rasa nyeri.
Bursa adalah kantong datar yang mengandung cairan sinovial
, yang memudahkan pergerakan normal dari beberapa sendi pada otot dan mengurangi gesekan. Bursa terletak pada sisi yang mengalami gesekan, terutama di tempat dimana tendon atau otot melewati tulang. Dalam keadaan normal, sebuah bursa mengandung sangat sedikit cairan. Tetapi jika terluka, bursa akan meradang dan terisi oleh cairan.

2.      ETIOLOGI
          Penyebab utama bursitis adalah cedera ringan berulang, biasanya berhubungan dengan kegiatan kerja. Pergeseran yang berulang-ulang dapat menyebabkan bursitis akibat gesekan (friction bursitis) dimana dinding bursa menebal dan dapat terjadi efusi pada bursa. Bursitis juga dapat berhubungan dengan jenis pekerjaan tertentu seperti prepatela bursitis pada lutut pembantu rumah tangga, dan alekranon bursitis pada pelajar. Peradangan disertai dengan peningkatan junlah cairan yang menyebabkan distensi ( pelembungan ) dapat menyebabkan dinding burse mengeras. Bagian tubuh yang biasanya terkena bursitis adalah bahu, siku, pinggul, panggul, lutut, jari kaki dan tumit.

3.      KLASIFIKASI
Berdasarkan waktu berapa lama telah terinfeksinya bursitis di klasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu bersitis akut dan bursitis kronis.
a.      Bursitis Akut
Bursitis akut terjadi secara mendadak. Jika disentuh atau digerakkan, akan timbul nyeri di daerah yang meradang. Kulit diatas bursa tampak kemerahan dan membengkak. Bursitis akut yang disebabkan oleh suatu infeksi atau gout menyebabkan nyeri yang luar biasa dan daerah yang terkena tampak kemerahan dan teraba hangat.
b.      Bursitis Kronis
Bursitis kronis merupakan akibat dari serangan bursitis akut sebelumnya atau karena cedera yang berulang. Pada akhirnya, dinding bursa akan menebal dan di dalamnya terkumpul endapan kalsium padat yang menyerupai kapur. Bursa yang telah mengalami kerusakan sangat peka terhadap peradangan tambahan. Nyeri menahun dan pembengkakan bisa membatasi pergerakan, sehingga otot mengalami penciutan (atrofi) dan menjadi lemah. Serangan bursitis kronis berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering kambuh.
                                    Berdasarkan lokasi terjadinya bursitis di klasifikasi kan menjadi 6, yaitu:
a.      Bursitis Alekranon
Radang bursa alekranon merupakan penyebab tersering nyeri periartikuler sikron. Penyebab utama bursitis adalah cedera ringan berulang, biasanya berhubungan dengan kegiatan kerja. Gambaran klinis gerakan sendi sedikit terbatas pada fleksi maksimal karena nyeri, bursitis trauma biasanya hanya nyeri ringan maupun dapat sangat bengkak, bursitis alekranon sering merupakan radang piogenik. Gejala dini berupa tanda radang akut dengan hipertemia, edema luas di sekitarnya tetapi tidak ada tanda arthritis. Penanganan pada bursistis alekranon akibat trauma atau idiopatik perlu perlindungan bursa terhadap iritasi dan tekanan bila perlu dilakukan aspirasi dan beban tekan aspirasi harus dilakukan secara steril mengingat adanya infeksi bacterial.
b.      Bursitis Panggung / Bursitis Trokanter
Bursitis trokanter sering di kelirukan dengan penyakit intra artikuler. Penyebab tersering nyeri panggul pada usia pertengahan dan lanjut. Gambaran klinis. Gambaran utama bursitis panggul adalah local yang meliputi trokanter mayor dan nyeri saat melakukan rotasi ekstrim dan abduksi panggul. Karena nyeri di bokong dan panggul sering berhubungan dengan penyakit tulang belakang daerah lumbal pada penyakit intra artikuler endorotasi maksimal akan menimbulkan nyeri tetapi pada bursitis tidak demikian.
c.       Bursitis Kaki
Antara permukaan belakang tulang kalkaneus dan tendo Achilles biasanya terdapat bursa. Sering ditemukan juga bursa antara Achilles dan kulit. Perbedaan antara kedua bursitis ini dapat ditentukan karena bursitis retrokalkareus menonjol bilateral disamping tendon sedangkan bursitis rettendo Achilles menutup tendon tersebut. Penyebabnya adalah pembebanna yang berlebihan atau rangsangan alas kaki yang tidak cocok misalnya rangsangan pinggir belakang sepatu.
d.      Bursitis Prepatela
Disebut juga lutut pembantu RT. Bursitis yang tidak terinfeksi bukanlah akibat tekanan tetapi akibat friksi tetap antara kulit dan patela. Penyakit ini terjadi pada penenun karpet dan buruh tambang.
Pembengkakan terbatas akan berfluktuasi tetapi sendi itu normal.
e.       Bursitis Intrapatela
Pembengkakan berada pada tempat yang lebih dangkal daripada ligamentum patela karena lebih ke distal. Terjadi pada orang yang berada berlutut lebih tegak daripada orang yang mengepel.
f.       Bursitis Iliopsous
Nyeri pada lipat paha dan paha anterior. Nyeri yang paling khas adalah peningkatan nyeri yang tajam saat abduksi dan rotasi internal pada panggul.


4.      PATOFISIOLOGI
      Bursitis trokanter dan tendinitis insersi aponeutosis otot gluteus di trokanter mayor sering dikelirukan dengan penyakit intra antrikuler. Tendinitis M. gluteus medsus dan M. gluteus minimus pada insersinya di dalam trokanter mayor adalah penyakit tersering panggul pada usia pertengahan dan lanjut. Inflamasi di daerah insersi otot tersebut biasanya juga meliputi burse trokanter yang terletak di sub cutan, dengan nyeri lokal di posterolateral prominensia ( menonjol di atas permukaan ) trokanter. Gejala utama bursitis dan tendinitis panggul ialah nyeri lokal yang meliputi trokanter mayor dan nyeri saat melakukan rotasi ekstrem atau abduksi panggul. Penderita mengeluh nyeri panggul, biasanya menjadi lebih hebat pada eksuserbasi dan beralih ke sisi lateral paha. Biasanya panggul teraba hangat dan kulit meliputi trokanter mayor terlihat kemerahan.Karena nyeri di bokong dan panggul keatas berhubungan dengan penyakit tulang belakang daerah lumbal. Penyakit degeneratif diskus invertebratalis dan iskias pada bursitis terdapat nyeri setempat pada palpasi burse, sedangkan gerak mengangkat tungkai yang lurus tidak menimbulkan nyeri, nyeri ini perlu pula dibedakan dengan penyakit intra artikuler endo rotasi maksimal akan menimbulkan nyeri tetapi pada bursitis tidak demikian pada penyakit sendi panggul perkusi di tumit dengan tungkai lurus akan meningkatkan nyeri tidak demi penanggulangan.Bersifat simptomatik dengan istirahat dan obat anti inflamasi. Nyeri biasanya menghilang dalam waktu 2 – 3 hari.
5.      MANIFESTASI KLINIK
Gejala utama pada bursitis pada umumnya berupa pembengkakan lokal, panas, merah dan nyeri. Bursitis menyebabkan nyeri dan cenderung membatasi pergerakan, tetapi gejala yang khusus tergantung kepada lokasi bursa yang meradang. Jika bursa di bahu meradang, maka jika penderita mengangkat lengannya untuk memakai baju akan mengalami kesulitan dan merasakan nyeri.

6.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Daerah di sekitar bursa terasa sakit jika diraba dan pergerakan sendi tertentu menimbulkan nyeri. Jika bursa tampak membengkak, bisa diambil contoh cairan dari bursa dan dilakukan pemeriksaan terhadap cairan untuk menentukan penyebab dari peradangan.

7.      PENATALAKSANAAN
a.       Bursa yang terinfeksi harus dikeringkan dan diberikan antibiotik.
b.      Bursitis akut non-infeksius biasanya diobati dengan istirahat, dimana untuk sementara waktu sendi yang terkena tidak digerakkan dan diberikan obat peradangan non-steroid (misalnya indometasin, ibuprofen atau naproksen) Kadang diberikan obat pereda nyeri. Selain itu bisa disuntikkan campuran dari obat bius lokal dan kortikosteroid langsung ke dalam bursa. Penyuntikan ini mungkin perlu dilakukan lebih dari 1 kali.
c.       Pada bursitis yang berat diberikan kortikosteroid (misalnya prednison) per-oral (ditelan) selama beberapa hari. Setelah nyeri mereda, dianjurkan untuk melakukan latihan khusus guna meningkatkan daya jangkau sendi.
d.      Bursitis kronis diobati dengan cara yang sama.
e.       Kadang endapan kalsium yang besar di bahu bisa dibuang melalui jarum atau melalui pembedahan.
f.       Kortikosteroid bisa disuntikkan langsung ke dalam sendi.
g.      Terapi fisik dilakukan untuk mengembalikan fungsi sendi. Latihan bisa membantu mengembalikan kekuatan otot dan daya jangkau sendi.

8.      FAKTOR RESIKO
a.       Stres cedera (berlebihan) berulang-ulang. Hal ini dapat terjadi ketika berjalan, memanjat tangga, bersepeda, atau berdiri untuk jangka waktu yang panjang.
b.      Hip cedera. Cedera ke titik pinggul dapat terjadi ketika jatuh ke pinggul, pinggul bertemu di tepi meja, atau berbaring pada satu sisi tubuh untuk jangka waktu yang lama.
c.       Spine penyakit. Ini termasuk skoliosis, arthritis tulang belakang (bawah) lumbal, dan masalah tulang lainnya.
d.      Kaki panjang ketidaksetaraan. Ketika satu kaki lebih pendek dari yang lain oleh lebih dari satu inci atau lebih, hal itu mempengaruhi cara Anda berjalan dan dapat menyebabkan iritasi bursa pinggul.
e.       Rheumatoid arthritis. Hal ini membuat bursa semakin besar kemungkinan untuk menjadi meradang.
f.       Bedah Sebelumnya operasi. Sekitar panggul atau implan prostetik di pinggul dapat mengiritasi bursae dan menyebabkan radang kandung lendir.
g.      Tulang taji atau deposito kalsium. Ini dapat berkembang dalam tendon yang melekat pada trokanter mayor itu. Mereka dapat mengiritasi bursa dan menyebabkan peradangan.

9.      KOMPLIKASI
a.       Terjadinya Bursitis kronis
b.      Terlalu banyak suntikan steroid selama waktu singkat dapat menyebabkan cedera pada tendon sekitarnya.

10.  PENCEGAHAN
Pencegahan ini bertujuan untuk menghindari perilaku dan aktivitas yang membuat peradangan pada bursa lebih buruk.
a.       Hindari aktivitas berulang yang menempatkan tekanan pada pinggul.
b.      Menurunkan berat badan jika perlu.
c.       Dapatkan sepatu memasukkan benar pas untuk kaki panjang perbedaan.
d.      Mempertahankan kekuatan dan fleksibilitas dari otot-otot pinggul.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BURSITIS

1.      PENGKAJIAN
a)      Biodata
b)      Keluhan utama
Nyeri, pembengkakan, panas, merah.
c)      Riwayat penyakit sekarang
d)     Riwayat penyakit dahulu.
Apakah klien pernah menderita artitis rematoid, gout, apakah pernah cedera atau koma.
e)      Riwayat penyakit keluarga
f)       Pola mobilitas fisik
g)      Pola perawatan diri.
Klien dalam pemenuhan perawatan diri (mandi, gosok gigi, mencuci rambut) mengalami keterbatasan karena nyeri tersebut.
h)      Konsep diri
Klien dengan penyakit bursitis akut maupun kronis sering mengalami nyeri sehingga gambaran dirinya terganggu.
2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.       Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d agen injury fisik.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3 x 24 jam nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria hasil:
·         Klien mengatakan nyeri berkurang.
·         Klien tampak dan mampu tidur atau istirahat dengan tepat.
v  Intervensi Keperawatan
ü  Kaji lokasi, intensitas dan derajat nyeri
Rasional:
Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan ke efektifan program.


ü  Berikan klien posisi yang nyaman.
Rasional:
Pada penyakit berat / eksaserbasi, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi nyeri.
ü  Berikan kasur busa atau bantal air pada bagian yang nyeri.
Rasional:
Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral.    
ü  Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.
Rasional:
Meningkatkan relaksasi / mengurangi tegangan otot.
ü  Kolaborasi pemberian aspirin.
Rasional:
Aspirin bekerja sebagai anti dan efek analgetik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.

b.      Intoleransi b/d kelemahan atau keletihan.
Tujuan:
Klien dapat melakukan aktifitasnya setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x 24 jam.
                        Kriteria Hasil:
·         Klien dapat melakukan aktifitas sehari-hari sesuai dengan tingkat kemampuan
·         Klien dapat mengidentifikasikan faktor-faktor yang menurunkan toleriansi aktifitas
v  Intervensi Keperawatan
ü  Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidak mampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari
Rasional:
Klien menunjukkan kelemahannya berkurang dan dapat melakukan aktifitasnya


ü  Berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa gangguan
Rasional:
Menghemat energi untuk aktifitas
ü  Pertahankan istirahat tirah baring / duduk jika diperlukan
Rasional:
Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi dan seluruh fase penyakit yang penting mencegah kelemhan
ü  Berikan lingkungan yang aman
Rasional:
Menghindari cedera akibat kecelakaan

c.       Kurang pengetahuan tentang  kondisi, prognosis dan tindakan keperawatan b/d kurangnya informasi, kemungkinan dibuktikan oleh :
·         Pertanyaan/meminta informasi,
·         Mengungkapkan masalah, terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.
v  Intervensi Keperawtan
ü  Kaji pengetahuan tentang proses tindakan terhadap penyakit
Rasional:
Mengidentifikasi area kekurangan pengetahuan / salah informasi dan memberikan kesempatan untuk memberikan informasi tambahan sesuai keperluan.
ü  Berikan penjelasan kepada klien bahwa penyakitnya memerlukan tindakan dan pengobatan khusus.
Rasional:
Proses penyakit dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk membaik. Bila gejala ada lebih lama dari 6 bulan. Sehingga memerlukan tindakan dan pengobatan khusus.
ü  Berikan penjelasan kepada klien tentang pencegahan penyakit bursitis
Rasional:
Mencegah terjadinya penyakit yang sama atau berulang jika klien telah sembuh.


3.      IMPLEMENTASI
Pelaksanaan rencana tindakan yang telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal.
Langkah-langkah persiapan tindakan keperawatan adalah sebagai berikut :
a.       Memahami rencana perawatan yang telah ditentukan.
b.      Menyiapkan tenaga atau alat  yang diperlukan.
c.       Menyiapkan lingkungan yang sesuai dengan tindakan yang dilakukan antara lain : langkah pelaksanaan, sikap yang meyakinkan, sistematika kerja yang tepat, pertimbangan hukum dan etika, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, mencatat semua tindakan keperawatan yang telah ditentukan
Implementasi / pelaksanaan pada diagnosa keperawatan penyakit Bursitis mengacu pada perencanaan yang sudah dibuat.

4.      EVALUASI
Tahap evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang yang telah ditentukan.
Tujuannya adalah menentukan kemampuan pasien dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar